http://scmplayer.net/

shockwave

Jumat, 29 April 2016

Tanda Bahaya pada kehamilan

Konsep Pre-Eklamsi
1  Pengertian Pre-eklamsia
Preeklamsia dan eklamsia merupakan kumpulan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : proteinuri, hipertensi,dan edema, yang kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma. Ibu tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan-kelainan vaskular atau hipertensi sebelumnya ( Mochtar, 2007).
Preeklamsi adalah penyakit dengan tanda-tanda hipertensi, proteinuria, dan edema yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam triwulan ke tiga pada kehamilan, tetapi dapat terjadi sebelumnya misalnya pada mola hidatidosa Prawirohardjo 2005 yang dikutip oleh Rukiyah (2010).
2  Etiologi
Menurut Mochtar (2007), Etiologi penyakit ini sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Banyak teori-teori dikemukakan oleh para ahli yang mencoba menerangkan penyebabnya.oleh karena itu disebut ”Penyakit teori”, namun belum ada yang memberikan jawaban yang memuaskan. Teori yang sekarang dipakai sebagai penyebab preeklamsia adalah teori ”iskemia plasenta”. Namun teori ini belum dapat menerangkan semua hal yang bertalian dengan penyakit ini.
      Teori yang dapat diterima haruslah dapat menerangkan : (a) Mengapa frekuensi menjadi tinggi pada: primigravida, kehamilan ganda, hidramnion,dan molahidatidosa; (b) Mengapa frekuensi bertambah seiring dengan tuanya kehamilan ,umumnya pada triwulan ke III; (c)Mengapa terjadi perbaikan keadaan penyakit, bila terjadi kematian janin dalam kandungan; (d) mengapa frekuensi menjadi lebih rendah pada kehamilan berikutnya; dan (e) Penyebab timbulnya hipertensi,proteinuria,edema dan konvulsi sampai koma. Dari hal-hal tersebut diatas, jelaslah bahwa bukan hanya satu faktor, melainkan banyak faktor yang menyebabkan pre-eklamsia dan eklamsia.
Adapun teori-teori yang dihubungkan dengan terjadinya preeklamsia adalah :
a)      Peran prostasiklin dan trombiksan
Pada preeklamsia dan eklamsia didapatkan kerusakan pada endotel vaskular, sehingga terjadi penurunan produksi prostsiklin (PGI 2) yang pada kehamilan normal meningkat, aktifasi pengumpulan dan fibrinolisis, yang kemudian akan digant trombin dan plasmin,trombin akan mengkonsumsi anti trombin III, sehingga terjadi deposit fibrin. Aktifasi trombosit menyebabkan pelepasan tromboksan (TXA2) dan serotonin, sehingga terjadi vasospasme dan kerusakan endotel.
b)   Peran faktor imunologis
Menurut Rukiyah (2010), Preeklamsia sering terjadi pada kehamilan pertama dan tidak timbu lagi pada kehamilan berikutnya. Hal ini dapat ditererangkan bahwa pada kehamilan pertama pembentukan blocking antibodies terhadap antigen plasenta tidak sempurna, yang semakin sempurna pada kehamilan berikutnya. Beberapa data yang mendukung adanya sistem imun pada penderita PE-E, beberapa wanita dengan PE-E mempunyai komplek imun dalam serum, beberapa studi juga mendapatkan adanya aktifasi sistem komplemen pada PE-E diikuti proteinuria.
c)      Faktor genetik
Beberapa bukti menunjukkan peran faktor genetik pada kejadian PE-E antara lain : (1) preeklamsia hanya terjadi pada manusia; (2) terdapatnya kecenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak-anak dari ibu yang menderita PE-E; (3) kescenderungan meningkatnya frekuensi PE-E pada anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat PE-E dan bukan pada ipar mereka; (4) peran renin-angiotensin-aldosteron sistem (RAAS).
Yang jelas preeklamsia merupakan salah satu penyebab kematian pada ibu hamil, disamping infeksi dan perdarahan, Oleh sebab itu, bila ibu hamil ketahuan beresiko, terutama sejak awal kehamilan, dokter kebidanan dan kandungan akan memantau lebih ketat kondisi kehamilan tersebut.
Beberapa penelitian menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya preeklamsia dan eklamsia. Faktor-faktor tersebut antara lain,gizi buruk, kegemukan, dan gangguan aliran darah kerahim. Faktor resiko terjadinya preeklamsia, preeklamsia umumnya terjadi pada kehamilan yang pertama kali, kehamilan di usia remaja dan kehamilan pada wanita diatas usia 40 tahun. Faktor resiko yang lain adalah riwayat tekanan darah tinggi yang kronis sebelum kehamilan, riwayat mengalami preeklamsia sebelumnya, riwayat preeklamsia pada ibu atau saudara perempuan, kegemukan,mengandung lebih dari satu orang bayi, riwayat kencing manis, kelainan ginjal, lupus atau rematoid artritis.
3  Patofisiologi
Menurut Mochtar (2007) Pada preeklamsia terjadi spasme pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Pada biopsi ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus, lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi jika semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme, maka tekanan darah akan naik, sebagai usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan perifer agar oksigenasi jaringan dapat dicukupi.
Sedangkan kenaikan berat badan dan edema yang disebabkan oleh penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan intertisial belum diketahui penyebabnya, mungkin karena retensi air dan garam. Proteinuria dapat disebabkan oleh spasme arteriola sehingga terjadi perubahan glomerolus.
4  Klasifikasi
Menurut Mochtar (2007), Dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1)   Pre-eklamsia ringan, bila disertai keadaan sebagai berikut
a)             Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang: atau kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih; atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada dua kali pemeriksaan dengan jarak 1 jam,sebaiknya 6 jam.
b)             Edema umum, kaki jari tangan, dan muka, atau kenaikan berat badan ≥ 1 kg per minggu.
c)             Proteinuria kwantitatif  ≥ 0,3 gr per liter,kwalitatif 1+ atau 2+ pada urin kateter atau midstream.
2)   Pre-eklamsia berat, bila disertai keadaan sebagai berikut :
a)             Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
b)             Proteinuria ≥ 5gr per liter.
c)             Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
d)            Adanya gangguan serebral, gangguan visus, dan rasa nyeri di epigastrium.
e)             Terdapat edema paru dan sianosis.
5  Perubahan Pada Organ-Organ
                 Menurut Mochtar (2007) pada penderita preeklamasi dapat terjadi perubahan pada organ-organ, antara lain :
 1)   Otak
Pada pre-eklamsia aliran darah dan pemakaian oksigen tetap dalam batas-batas normal. Pada eklamsia, resistensi pembuluh darah meninggi, ini terjadi pula pada pembuluh darah otak. Edema yang terjadi pada otak dapat menimbulkan kelainan serebral dan gangguan visus, bahkan pada keadaan lanjut dapat terjadi perdarahan.
2)   Plasenta dan rahim
Aliran darah menurun ke plasenta dan menyebabkan gangguan plasenta, sehingga terjadi gangguan pertumbuhan janin dan karena kekurangan oksigen terjadi gawat janin. Pada pre-eklamsia dan eklamsiasering terjadi peningkatan tonus rahim dan kepekaanya terhadap rangsang, sehingga terjadi partus prematus.
3)   Ginjal
Filtrasi glomerolus berkurang oleh karena aliran ke ginjal menurun. Hal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerolus menurun, sebagai akibatnya terjadilah retensi garam dan air. Filtrasi glomerolus dapat turun sampai 50% dari normal sehingga pada keadaan lanjut dapat terjadi oliguria dan anuria.
4)   Paru-paru
Kematian ibu pada pre-eklamsia dan eklamsia biasanya disebabkan oleh edema paru yang menimbulkan decompensasi cordis. Bisa pula karena terjadinja aspirasi pnemonia,atau abses paru.


5)        Mata
Dapat dijumpai adanya edema retina dan spasme pembuluh darah. Bila terdapat hal-hal tersebut, maka harus di curigai terjadinya pre eklamsia berat. Pada eklamsia dapat terjadi ablasio retina yang disebabkan odema intra-okuler dan merupakan salah satu indikasi untuk melakukan terminasi kehamilan. Gejala lain yang dapat menunjukkan tanda pre-eklamsia berat adalah adanya skotoma, diplopia, dan ambliopia. Hal ini disebabkan adanya perubahan peredaran darah dalam pusat penglihatan di korteks serebri,atau di dalam retina.
6)   Keseimbangan air dan elektrolit
Pada pre-eklamsia ringan biasanya tidak dijumpai perubahan yang nyata pada metabolisme air, elektrolit, kristaloit, dan protein serum. Jadi, tidak terjadi gangguan keseimbangan elektrolit. Gula darah, kadar natrium bikarbonat dan pH darah berada berada pada batas normal. Pada pre-eklamsia berat dan eklamsia, kadar gula darah naik sementara, asam laktat dan asam organik lainya naik,sehingga cadangan alkali akan turun. Keadaan ini biasanya disebabkan oleh kejang-kejang. Setelah konvulsi selesai zat-zat organik dioksidasi, dan dilepaskan natrium yang lalu bereaksi dengan karbonik sehingga terbentuk natrium bikarbonat. Dengan demikian cadangan alkalidapat kembali pulih normal.
Oleh beberapa penulis/ahli kadar asam urat dalam darah dipakai untuk menentukan arah preeklamsia menjadi baik atau tidak setelah penanganan.
6  Frekuensi
Ada yang melaporkan angka kejadian sebanyak 6% dari seluruh kehamilan, dan 12% pada kehamilan primigravida. Menurut beberapa penulis lain frekuensi dilaporkan sekitar 3-10%.
Lebih banyak dijumpai pada primigravida daripada multigravida, terutama primigravida usia muda.
Faktor-faktor predisposisi untuk terjadinya preeklamsia adalah molahidatidosa, diabetes melitus, kehamilan ganda, hidrops fetalis, obesitas, dan umur yang lebih dari 35 tahun (Mochtar, 2007).
7  Diagnosis
Menurut Mochtar (2007), Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
1)      Gambaran klinik : pertambahan berat badan yang berlebihan, edema, hipertensi, dan timbul proteinuria.
Gejala subjektif : sakit kepala didaerah frontal,nyeri epigastrium; gangguan visus; penglihatan kabur, skotoma, diplopia;  mual dan muntah. Gangguan serebral lainya : Oyong, reflek meningkat, dan tidak tenang.
2)      Pemeriksaan : tekanan darah tinggi, refleks meningkat, dan proteinuria pada pemeriksaan laboratorium.
.8  Penatalaksanaan
Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap kehamilan dengan penyulit preeklamsia adalah :
1)      Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinya.
2)      Lahirnya bayi yang kemudian dapat berkembang.
3)      Pemulihan sempurna kesehatan ibu
Pada kasus preeklasmia tertentu, terutama pada wanita menjelang atau sudah aterm, tiga tujuan tersebut dapat terpenuhi oleh induksi persalinan. Dengan demikian, informasi terpenting yang perlu dimiliki oleh ahli obstetri agar penanganan kehamilan berhasil dan terutama kehamilan dengan penyulit hipertensi, adalah kepastian usia janin (Cuningham dkk,2005).
Penanganan Preeklamsia ringan menurut Cuningham dkk. (2005), dapat dilakukan dengan dua cara tergantung gejala yang timbul yakni :
1)      Penatalaksanaan rawat jalan pasien preeklamsia ringan, dengan cara : ibu dianjurkan banyak istirahat (berbaring,tidur/miring), diet : cukup protein, rendah karbohidrat,lemak dan garam; pemberian sedativa ringan : tablet phenobarbital 3x30 mg atau diazepam 3x2 mg/oral selama 7 hari (atas instruksi dokter); roborantia; kunjungan ulang selama 1 minggu; pemeriksaan laboratorium: hemoglobin, hematokrit, trombosit, urin lengkap, asam urat darah, fungsi hati, fungsi ginjal.
2)      Penatalaksanaan rawat tinggal pasien preeklamsi ringan berdasarkan kriteria : setelah duan minggu pengobatan rawat jalan tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejala-gejala preeklamsia; kenaikan berat badan ibu 1kg atau lebih/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu); timbul salah satu atau lebih gejala atau tanda-tanda preeklamsia berat.
Bila setelah satu minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan maka preeklamsia ringan dianggap sebagai preeklamsia berat. Jika dalam perawatan dirumah sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. Perawatan lalu disesuaikan dengan perawatan rawat jalan.
                    Perawatan obstetri pasien preeklamsia menurut Rukiyah (2010) adalah :
                    
1)      Kehamilan preterm (kurang 37 minggu) : bila desakan darah mencapai normotensi selama perawatan, persalinan ditunggu sampai aterm; bila desakan darah turun tetapi belum mencapai normotensi selama perawtan maka kehamilanya dapat diakhiri pada umur kehamilan 37 minggu atau lebih.
2)      Kehamilan aterm (37 minggu atau lebih) : persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan paa taksiran tanda persalinan.
3)      Cara persalinan : persalinan dapat dilakukan secara spontan bila perlu memperpendek kala II.
Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklamsia berat selama perawatan maka perawatan dibagi menjadi :
1)      Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri atau diterminasi ditambah pengobatan medicinal.
2)      Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pengobatan medicinal.
2.  Konsep  Pencegahan Preeklamsi
                        Menurut Cuningham dkk. (2005), Berbagai strategi telah digunakan sebagai upaya untuk mencegah preeklamsia. Biasanya strategi-strategi ini mencakup manipulasi diet dan usaha farmakologis untuk memodifikasi mekanisme patofisiologis yang diperkirakan berperan dalam terjadinya preeklamsia. Usaha farmakologis mencakup pemakaian aspirin dosis rendah dan antioksidan.
1  Manipulasi diet
Salah satu usaha paling awal yang ditujukan untuk mencegah preeklamsia adalah pembatasan asupan garam selama hamil, Knuist dkk. (1998) yang dikutip oleh Cuningham (2005).
Berdasarkan sebagian besar studi di luar amerika serikat, ditemukan bahwa wanita dengan diet rendah kalsium secara bermakna beresiko lebih tinggi mengalami hipertensi akibat kehamilan. Hal ini mendorong dilakukanya paling sedikit 14 uji klinis acak yang menghasilkan metaanalisis yang memperlihatkan bahwa suplementasi kalsium selama kehamilan menyebabkan penurunan bermakna tekanan darah serta mencegah preeklamsia. Namun studi yang tampaknya definitif dilakukan oleh Lavine dkk.,(1997) yang dikutip oleh Cuningham (2005). Studi ini adalah suatu uji klinis acak yang disponsori oleh the National Institute of Child Health and Human development. Dalam uji yang menggunakan penyamar-ganda ini,4589 wanita nulipara sehat dibagi secara acak untuk mendapat 2g suplemen kalsium atau plasebo.
Manipulasi diet lainya untuk mencegah preeklamsia yang telah diteliti adalah pemberian empat sampai sembilan kapsul yang mengandung minyak ikan setiap hari. Suplemen harian ini dipilih sebagai upaya untuk memodifikasi keseimbangan prostaglandin yang diperkirakan berperan dalam patofisiologi preeklamsia.
2  Aspirin dosis rendah
Dengan aspirin 60 mg atau plasebo yang diberikan kepada wanita primigravida peka-angiotensin pada usia kehamilan 28 minggu. Menurunya insiden preeklamsi pada kelompok terapi diperkirakan disebabkan oleh supresi selektif sintesis tromboksan oleh trombosit serta tidak terganggunya produksi prostasiklin. Berdasarkan laporan ini dan laporan lain dengan hasil serupa, dilakukan uji klinis acak multisentra pada wanita beresiko rendah dan tinggi di amerika serikat dan negara lain. Uji-uji klinis ini secara konsisten menperlihatkan aspirin dosis rendah efektif untuk mencegah preeklamsia. Dalam suatu analisis sekunder terhadap uji klinis intervensi resiko-tinggi, memperlihatkan bahwa pemberian aspirin dosis rendah secara bermakna menurunkan kadar tromboksan Bibu.
3  Antioksidan
Serum wanita hamil normal memiliki mekanisme antioksidan yang berfungsi mengendalikan peroksidasi lemak yang diperkirakan berperan dalam disfungsi sel endotel pada preeklamsia. serum wanita dengan preeklamsia memperlihatkan penurunan mencolok aktivitas antioksidan. Schirif dkk.,(1996) yang dikutip oleh Cuningham (2005), menguji hipotesis bahwa penurunan aktifitas antioksidan berperan dalam preeklamsia dengan mempelajari konsumsi diet serta konsentrasi vitamin E dalam plasma pada 42 kehamilan dengan 90 kontrol. Mereka menemukan kadar vitamin E plasma yang tinggi pada wanita dengan preeklamsia, tetapi konsumsi vitamin E dalam diet tersebut tidak berkaitan dengan preeklamsia. Mereka berspekulasi bahwa tingginya kadar vitamin E yang diamati disebabkan oleh respons terhadap stres oksidatif pada preeklamsia.
Penelitian sistematik pertama yang dirancang untuk menguji hipotesis bahwa terapi antioksidan untuk wanita hamil akan mengubah cedera sel endotel yang dikaitkan dengan preeklamsia. Sebanyak 283 wanita hamil 18 sampai 22 minggu yang beresiko preeklamsia dibagi secara acak untuk mendapat terapi antioksidan atau plasebo. Terapi antioksidan secara bermakna menurunkan aktivasi sel endotel dan mengisyaratkan bahwa terapi semacam ini mungkin bermanfaat untuk mencegah preeklamsia. Juga terjadi penurunan bermakna insiden preeklamsia pada mereka yang mendapat vitamin C dan E dibandingkan dengan kelompok kontrol (17 versus 11 persen,p <0,02).
4  Pemeriksaan antenatal
Pemeriksaan antenatal care yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (preeklamsi ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya preeklamsia kalau ada faktor-faktor predisposisi, memberikan penerangan tentang manfaat istirahat dan tidur, ketenangan, serta pentingnya mengatur diet rendah garam, lemak, serta karbohidrat dan tinggi protein, juga menjaga kenaikan berat badan yang berlebihan (Mochtar,2007).
               Terapi paling efektif adalah pencegahan. Pada awal perawatan prenatal,identifikasi wanita hamil yang beresiko tinggi, pengenalan, dan laporan gejala-gejala peringatan fisik merupakan komponen inti untuk mengoptimalkan hasil pada maternal dan perinatal. Kemampuan perawat dalam memeriksa faktor-faktor dan gejala-gejala preeklamsia pada klien tidak dapat terlalu dihrapkan. Perawat dapat melakukan banyak hal dalam tugas pendukung. Tindakan harus diambil untuk menambah pengetahuan dan akses publik pada perawatan antenatal. Konseling, penyerahan sumberdaya masyarakat, pengerahan sistem pendukung, konseling nutrisi dan informasi tentang adaptasi normal pada kehamilan merupakan komponen pencegahan yang esensial pada perawatan (Bobak, Jensen.2000).

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta
Azwar, Saifuddin.2009. Sikap Manusia Teori Dan Pengukuranya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Bobak, Margaret Duncan. 2000. Perawatan Maternitas dan Ginekologi.Bandung       : YIA-PKP

Cuningham, F. Gary.Dkk. 2005. Obstetri Williams. Jakarta : EGC


Hidayat, A. Aziz Alimul. 2007. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika

Persiapan Menjelang Persalinan

               Memasuki usia kehamilan trimester tiga, ibu sering cemas. Kecemasan paling umum terjadi karena ibu hamil merasakan kurang persiapan menjelang persalinan. Persiapan bukan hanya perlengkapan persalinan akan tetapi fisik, psikis dan dukungan dari orang sekitar.
Persalinan yang tenang banyak diidamkan oleh ibu hamil. Perasaan tenang tidak hanya timbul di dalam diri ibu akan tetapi dukungan dari orang sekitar dan persiapan mengelola diri sehingga dapat menghadapi persalinan dengan tenang. Beberapa ibu hamil seringkali bingung apa saja yang harus dipersiapkan mendekati hari persalinan. Bahkan seringkali stress sendiri karena khawatir persiapan kurang tepat atau persiapan persalinan ada yang terlewati.
Pada artikel kali ini kami akan membagi informasi mengenai persiapan persalinan yang dapat membuat anda tenang dan siap menghadapi persalinan.Tentu saja dengan mengelola diri dan persiapan perlengkapan yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan persalinan.
  • Persiapan Menjelang Persalinan
          Memasuki trimester ketiga ibu hamil seringkali merasakan ketidaknyamana. Selain kondisi fisik ibu yang semakin membesar. Kondisi yang membuat ibu tidak nyaman adalah ketika pemikirannya dihantui rasa cemas yang berlebihan dalam mempersiapkan persalinan. Khawatir yang berlebih yang membuat ibu hamil semakin merasa tidak nyaman akan menghambat persalinan. Seharusnya ibu hamil memiliki persiapan fisik dan mental menjelang persalinan. Walaupun tidak dapat disembunyikan lagi menunggu kehadiran buah hati memang merupakan kondisi yang mendebarkan.
Dengan melakukan persiapan persalinan maka akan membuat diri lebih dikelola dan dapat dipersiapkan dengan baik menjelang persalinan. Umumnya persiapan persalinan dapat dilakukan pada usia kehamilan 5 minggu sebelum persalinan atau lebih awal dari waktu tersebut yaitu dengan mempersiapkan diri dengan latihan-latihan yang akan mendukung persalinan.
  • Menjelang Persalinan Normal
          Ibu hamil mengidamkan persalinan normal meskipun tidak semua ibu hamil dapat melakukan persalinan normal. Persalinan normal yaitu kondisi dimana ibu hamil melahirkan melalui kejadian secara alami. Ibu hamil akan mengalami kontraksi kemudian mengalami bayi dapat dilahirkan melalui jalan lahir. Proses persalinan normal sering juga disebut persalinan alami yaitu kondisi alami yanng dialami oleh ibu hamil yang mengalami kontraksi kemudian bayi dapat dilahirkan.
Proses melahirkan secara normal harus dipersiapkan dengan kesiapan mental ibu hamil, latihan yang mendukung fisik, pernapasan dan latihan mengejan pada ibu hamil sehingga dapat lancar dalam proses persalinan. Selain itu riwayat kesehatan ibu hamil sangat dipertimbangkan untuk mendukung persalinan normal. Bahkan kondisi dan posisi janin ikut menentukan apakah ibu hamil dapat melakukan persalinan normal atau harus melakukan persalian dengan menggunakan pembedahan.
  • Menjelang Persalinan Caesar
         Persalinan sesar atau bedah sesar dikenal juga dengan istilah caesarean section yaitu proses persalinan yang melalui pembedahan dengan melakukan irisan di perut dan rahim ketika mengeluarkan bayi. Bedah caesar dilakukan ketika persalinan yang normal tidak dapat dilakukan karena adanya faktor resiko dan komplikasi medis baik pada kesehatan ibu hamil ataupun kondisi janin.
        Pentingnya melakukan konsultasi dan pemeriksaan dokter kandungan untuk mengetahui kondisi ibu dan janin menjelang persalinan. Apabila ditemukan kondisi yang kurang mendukung dalam persalinan normal maka dokter kandungan akan menyarankan melalui operasi caesar. Selain itu kondisi kelahiran secara caesar seringjuga diminta oleh ibu hamil, dokter kandungan akan mempertimbangkan melihat kondisi ibu dan janin.
  • Tips Menjelang Persalinan Agar Tenang
          Ibu hamil mengkhawatirkan akan mengalami kondisi persalinan yang menyakitkan. Persalinan normal maupun persalinan caesar dapat anda lalui dengan perasaan tenang asalkan anda telah mempersiapkan kondisi anda jauh sebelum hari persalinan tiba.
Dokter dapat memprediksi kelahiran anda meskipun demikian ada saja yang lebih awal atau lebih lambat dari prediksi hari lahir yang diberitahukann dokter. Mengingat hal tersebut anda harus mempersiapkan persalinan di usia kehamilan 7 bulan atau memasuki usia 8 bulan. Selain itu yang membuat ibu hamil memiliki mental yang tenang dan persiapan yang matang menjelang persalinan dapat anda kelola dengan baik.

Berikut adalah cara mengelola diri agar ibu hamil siap menjelang persalinan lebih tenang :
- Setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan anda mengenai pilihan metode persalinan anda lebih siap dengan segala persalinan pilihan anda. Meskipun anda menginginkan persalinan normal apabila kondusi ibu dan janin tidak mendukung maka persalinan caesar dapat menjadi pilihan. Anda dapat mencari informasi dan berbagi dengan ibu hamil yang telah melakukan pilihan persalinan anda nanti. Setiap persalinan memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga anda dapat lebih siap menjelang persalinan dengan metode pilihan yang anda tentukan.
- Persiapan mental dengan pilihan metode persalinan yang tepat akan membantu anda mengusir rasa cemas dan khawatir. Anda mempersiapkan mental dengan mengelola rasa stress dan khawatir yang berlebih bahwa persalinan merupakan proses yang membahagiakan untuk menyambut buah hati anda. Selain itu dukungan dari suami dan keluarga memang sangat dibutuhkan untuk dapat membuat jiwa anda lebih tenang.
- Tidak kalah penting ketika memasuki usia kehamilan 7 bulan anda mempersiapkan tempat persalinan yang tepat. Perhatikan jarak tempuh yang antara rumah dengan rumah sakit bersalin sehingga dapat melakukan persiapan. Beberapa rumah bersalin bahkan dapat melakukan reservasi kamar. Sehingga dapat memesan jauh jauh hari untuk mendapatkan kamar yang diingikan. Beberapa ibu hamil justru merasakan dampak pada kondisi psikis yang memburuk karena kondisi ruangan yang tidak sesuai harapan.
- Tidak kalah penting dalam mempersiapkan persalinan yang tenang didukung oleh perlengkapan ibu dan bayi. Perlengkapan untuk bayi dapat anda persiapkan 4 minggu sebelum hari kelahiran bayi. Anda dapat membeli pakaian yang sesuai dengan kebutuhan.
Pakaian yang dapat membantu anda dengan membeli popok, selimut, tisu, sarung tangan, bantal, kaos kaki, tempat tidur, perlak dan perlengkapan bayi. Bahkan anda dapat menambahkannya dengan keperluan lainnya seperti pompa ASI dan lain-lain. Sedangkan untuk ibu setelah persalinan mempersiapkan pembalut pasca melahirkan, bra khusus untuk ibu menyusui, baju yang berkancing depan atau perlengkapan yang diperlukan sehingga mendukung ibu setelah persalinan.
                   Anda dapat memahami tanda-tanda persalinan semakin dekat. Anda dapat mencari informasi dari dokter kandungan atau berbagi dengan ibu yang telah melahirkan sehingga tidak keliru dengan kontraksi yang dialami oleh ibu hamil. Beberapa kontraksi terkadang hanya kontraksi palsu yang membuat ibu hamil menyangka sudah mendekati hari lahir akan tetapi salah bukan kontraksi menjelang persalinan yang di tunggu.
Selain itu dukungan dari keluarga sangat diperlukan menjelang persalinan. Orang terdekat seperti suami adalah orang yang terpenting dalam memberikan dukungan menjelang persalinan. Anda dapat menceritakan kekhawatiran anda kepada suami anda sehingga dapat sharing yang terbaik untuk menemukan solusi yang terbaik. 

1. Persiapan Mental

2. Menyiapkan Tempat Persalinan

3. Perlengkapan Ibu dan Bayi

4. Memahami Tanda Persalinan dan Dukungan dari keluarga